Senin, 17 Januari 2011

maksiat membuat hamba menjadi lupa diri

Menjadi orang-orang yang lupa diri. Lupa terhadap hakikat dirinya. Lupa terhadap asal-usulnya, dan lupa terhadap tujuan akhir hidupnya. Semua itu akibat perbuatan maksiat, yang dijalani oleh seorang hamba.
Hakikatnya, perbuatan maksiat itu membuat hamba menjadi lupa diri. Jika seorang hamba sudah lupa diri, maka jiwanya akan membiarkannya, merusaknya, dan membinasakannya. Tetapi, seorang hamba tidak pernah mau menyadari, bahwa ia telah merusak dirinya, akibat dari perbuatan maksiat itu.
Bagaimana cara maksiat membuat hamba lupa diri? Jika ia sudah menjadi lupa diri, maka siapa yang akan mengingatkannya? Apa makna lupa diri itu? Lupa diri adalah jenis kelupaan yang paling besar.
Allah berfirman :
    “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik”. (Al-Hasyr : 19).
Apabila mereka melupakan Tuhan mereka, Allah, maka Allah pun melupakan mereka, sebagaimana firman-Nya :
Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka”. (At-Taubah : 67)
Akibat kelupaan itu, Allah memberikan dua hukuman atas kelupaan mereka itu. Pertama, Allah melupakan mereka. Kedua, Allah menjadikan mereka lupa diri.
Betapa Allah telah melupakan mereka, berarti Allah membiarkannya, meninggalkannya sendirian, menyia-nyiakannya, dan tidak mau tahu dengan urusannya. Apabila yang dialami seorang hamba demikian, maka yang dialaminya adalah kehancuran dan kebinasaan. Allah Azza Wa Jalla, yang Maha Rahman dan Rahim, lalu membiarkan hambanya yang telah lupa itu, akibat perbuatan maksiat yang telah dilakukannya.
Sedangkan, yang berkaitan dengan kelupaannya kepada dirinya sendiri, berarti bahwa ia melupakan bagian-bagiannya atau hak-hak yang seharusnya dapat ia raih. Hak-hak itu adalah bagian-bagian yang paling tinggi, seperti faktor kebahagiaan, kebaikan, dan kepentingan-kepentingannya, dan semua yang menjadi penyempurna dan pelengkap hidupnya di dunia dan akhirat. Ia akan melupakan semua itu. Ia tidak lagi peduli dan ingat dengan faktor-faktor itu, atau mengalihkan perhatian darinya. Akibatnya seorang hamba tidak lagi senang dengan bagian kebaikan itu. Bahkan, tidak mempedulikan semua kebaikan yang ada.
Salah contoh, makna lupa diri adalah ia melupakan aib-aibnya, kekurangan-kekurangannya, dan penyakit-penyakit dirinya. Akibatnya, tak terlintas dalam dirinya untuk memperbaiki atau menghilangkan hal-hal yang buruk itu dari dirinya. Ia jua lupa dengan penyakit-penyakit hati, dan membiarkannya mengendap dalam dirinya. Karena itu, tak terbersit dalam dirinya untuk mengobatinya atau berusaha menghilangkannya.
Padahal, penyakit-penyakit itulah yang akan mengantarkan kepada kebinasaan dan kehancuran sang hamba.
Inilah bencana terbesar yang akan menimpa orang-orang yang telah berlaku maksiat. Adakah hukuman yang lebih besar daripada orang yang melupakan atas dirinya sendiri? Melupakan semua kemaslahatan yang seharusnya ia peroleh? Melupakan kebahagian dirinya, faktor-faktor kebahagiaannya, kehidupannya yang abadi dalam kenikmatan yang kekal?
Siapa saja yang dapat merenungkan hal ini, maka akan jelas, bahwa mayoritas makhluk, sebenarnya melupakan diri mereka sendiri, serta menyia-nyiakannya. Mereka lupa akan bagian yang seharusnya mereka peroleh dari Allah, dan mreka telah menjual bagian termahal itu dengan harga yang sangat murah. Tak ubahnya dengan jual-beli dengan transaksi yang mengandung tipuan.
Sesunggunnya, mereka tertipu dalam transaki jual-beli.    Ketertipuan itu akan sangat nampak, ketika seorang hamba telah mati. Sangatlah jelas seperti ketika berlangsung hari ‘taghabun’, saat satu sama lainnya menyadari, bahwa dirinya telah tertipu dalam ‘akad perdagangan’, yang pernah mereka lakukan selama di dunia. Hakikatnya, setiap orang dalam kehidupan melakukan transaksi perdagangan di dunia untuk akhirat.
Orang yang rugi dalam akad ini berkeyakinan, bahwa mereka adalah orang yang beruntung dalam perdagangan. Padahal mereka telah membeli kehidupan dunia, dan segala macam kenikmatannya dengan kehidupan akhirat dan segala macam keindahan dan kenikmatannya. Mereka bersenang-senang dan ridho, dan bahagia dengan bagian yang mereka peroleh di dunia. Mereka menjual kehidupan akhirat dan kebahagiaan jangka panjang dengan kehidupan dunia jangka pendek, singkat dan sesaat.
Lebih parah lagi, jika iman mereka sangat lemah, dikuasi hawa nafsu, dan kecintaan terhadap sesuatu yang bersifat jangka pendek. Mayoritas makhluk Allah di dunia ini, sesungguhnya rugi dalam perdagangan ini, seperti yang difirmankan Allah :
Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringangkan siksa mereka dan mereka tiada akan ditolong”. (Al-Baqarah : 16)
Di hari ‘taghabun’, semua ketertipuan dalam perdagangan mereka akan menjadi nampak jelas, dan mereka hanya bisa menyesali diri mereka.
Orang yang beruntung adalah yang menjual sesuatu yang fana (dunia) dengan sesuatu yang kekal (akhirat), menjual sesuatu yang murah dengan sesuatu yang mahal dan bernilai tinggi, sesuatu yang hina dengan sesuatu yang agung dan mulia. Hamba itu berkata, “Apalah arti dunia ini dari awal, hingga akhir, sampai-sampai kita menjual bagian kita disisi Allah, dan tempat tinggal akhirat dengan dunia itu? Apa yang diperoleh seorang hamba dari dunia yang sangat singkat yagn sebenarnya seperti mimpi sekilas yang tidak ada artinya , jika dibanding dengan negeri akhirat yang kekal”.
Allah berfirman :
    “Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Alah mengumpulkan mereka, (mereka merasakan di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat saja di siang hari (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rigulah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat pentunjuk”. (Yunus : 45)
Orang-orang kafir bertanya kepadamju (Muhammad) tentang hari berbangkit, kapankah terjadi? Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya). Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit). Pada hari mereka melihat hari bebangkit itu,mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau di pagi hari”. (An-Nazi’at : 42-46).
“ .. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melaikan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melankan kaum fasik”. (Al-Ahqaf : 35)
“Allah bertanya, ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi? Zmereka menjawab, ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung, ‘Allah berfirman, ‘Kamu tidak tigngal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui”. (Al-Mu’minun : 112-114)
Inilah hekikat kehidupan dunia pada hari kiamat. Kehidupan yang sangat singkat. Mereka sadar bahwa ada kehidupan selainnya yang selama ini  mereka jalani, yaitu kehidupan yang sebenarnya dan kehidupan yang kekal, yaitu  kehidupan akhirat. Pasti mereka merasakan ketertipuan yang sangat besar, karena telah menjual kehidupan yang kekal dengan kehidupan yang sangat fana.
Setiap manusia pada hakikatnya adalah penjual, pembeli, dan pelaku perniagaan. Setiap manusia menjual dirinya. Manusia dapat membebaskan dirinya, atau sebaliknya membinasakannya.
Allah berfirman :
    “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan hartamereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mreka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an.Dan siapakah yagn lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”. (At-Taubah : 111)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar